Asal Usul Bahasa Indonesia Dibincang Ulang, Kubu Barus Diminta Sajikan Data Lebih Ilmiah

Delegasi dari Riau dan Kepulauan Riau berfoto bersama dengan Kepala Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof. Dr. E. Aminuddin usai FGD di Jakarta, Sabtu (5/12). (F: Ist)

 

JAKARTA –  Sejarah telah mencatat bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau, ketika Provinsi Riau dan Kepulauan Riau masih menyatu. Namun belakangan muncul pendapat lain, sebagai antitesa, bahasa Indonesia disebut berasal dari Barus, sebuah kota tua di pesisir Barat Sumatera.

Klaim ini dilandasi oleh temuan sajak – sajak dan tulisan religius peninggalan ulama sufistik Hamzah Fansuri pada abad ke-16. Ekspos tentang Barus sebagai tonggak sejarah bahasa Melayu menimbulkan kontroversi di antara para ahli bahasa dan pengamat sejarah kemelayuan. Hingga pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa memandang perlu untuk melaksanaan Diskusi Kelompok Terpumpun atau Forum Group Discussion (FGD) bertema Asal Usul Bahasa Indonesia.

Setidaknya ada empat kelompok atau wilayah yang dianggap berkepentingan yakni Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Aceh sebagai wilayah berdirinya Kerajaan Samudra Pasai yang meliputi Barus, lalu Sumatera Utara yang kini secara administratif mencakup wilayah Barus.

FGD berlangsung di Hotel Novotel, Mangga Dua, Jakarta pada 4 hingga 5 Desember 2020 dengan mengundang para akademisi dan budayaan dari empat wilayah berkenaan. Diskusi ini dibuka dan dipimpin langsung oleh Kepala Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof.  Dr. E. Aminuddin.

Delegasi dari Riau yakni akademisi Dr. Elmustian Rahman, M.Hum, Datuk Taufik Ikram Jamil Budayawan dari LAM Riau, yang didampingi Drs. Muhammad Muis, M.Hum selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau.

Provinsi Kepulauan Riau mengirim budayawan Muhammad Natsir Tahar, serta penulis muda Fatih Muftih dan didampingi Asep Juanda, S.Ag  selaku Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau.

Sementara utusan dari Aceh dihadiri oleh akademisi Prof. Yusni Sabu, M.A, Ph.D, budayawan Nabbahany AS serta Karyono, S.Pd., M.Hum selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh. Provinsi Sumatera Utara menghadirkan  akademisi Prof. Dr. Abdul Hadi W.M, budayawan Suyadi, dan Dr. Maryanto, M. Hum dalam kapasitas sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara.

Masing-masing utusan membawakan makalah dengan tema Jejak bahasa Indonesia dari masing-masing wilayah ditinjau secara akademis dan sosial budaya.  Bertindak selaku pembahas yakni Dr. Mu’jizah, selaku Peneliti Ahli Utama, Tommy Christommy, Ph.D, akademisi dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Oman Faturahman, akademisi dari UIN Syarif Hidayatullah, Drs. Abdul Khak, M.Hum dari  Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Dr. Dora Amalia dari Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dra. Ovi Soviaty Rivay, M.Pd dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta para Analis Kata dan Istilah dari Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra yakni Dr. Dewi Puspita, M.A, Meryna Afrila, M.Hum, dan Denny Adrian N., S.Pd.

Menurut Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau, Asep Juanda, dalam diskusi tersebut perwakilan dari  Sumatera Utara mengemukakan pandangannya mengenai peranan Barus terhadap asal usul bahasa Indonesia dengan tokoh sentralnya, Hamzah Fansuri.

“Asal usul bahasa Indonesia itu dari bahasa Melayu Riau didukung kuat oleh  perwakilan dari Riau dan Kepri dan terdapat dukungan juga dari  perwakilan Aceh. Kepala Balai Bahasa Aceh di akhir pembicaraannya menyatakan bahwa asal usul bahasa Indonesia dari bahasa Melayu Riau sudah final,” papar Asep.

Hal ini juga senada dengan budayawan Riau Taufik Ikram Jamil. “Apa lagi yang mau didiskusikan, semuanya sudah jelas, bahasa Indonesia itu berasal dari Melayu Riau. Fakta-fakta sejarah itu sulit dibantah,” tegasnya.

Sementara itu akademisi dari Aceh menyatakan bahwa sangat penting sekarang untuk dilakukan penguatan bahasa Indonesia dan penguatan bahasa Melayu di wilayah masing-masing mengingat fungsi kedua bahasa tersebut bagi generasi muda kini sangat terancam keberadaannya. Hal itu seirama dengan pemaparan Fatih Mufti dari Kepri, yang gelisah oleh semakin tergesernya bahasa Melayu di wilayah perbatasan terutama Kepri yang cenderung meminati bahasa Inggris.

Diskusi berlangsung alot dan mulai memanas pada sesi tanya jawab di hari kedua, setelah sebelumnya masing-masing perwakilan mengemukakan dan menunjukkan bukti otentik asal-usul bahasa Melayu dan peranannya terhadap kemunculan bahasa Nasional.

Menurut Asep, dua perwakilan dari Sumatera Utara mendapatkan tanggapan dan pertanyaan yang menukik terutama dari perwakilan Riau dan Muhammad Natsir Tahar dari Kepri  mengenai bukti otentik peran Melayu Barus terhadap Bahasa Indonesia. Termasuk peran  karya-karya Hamzah Fansuri terhadap kebahasaan di masyarakat.

Natsir dalam makalahnya tentang tinjauan akademis Jejak Bahasa Indonesia di Kepulauan Riau berjudul “Uji Ganda Lokus dan Dinamika Bahasa Melayu Indonesia” mempersyaratkan agar diskusi berlangsung ilmiah, masing-masing wilayah perlu memasukkan unsur logis terhadap sejarah dan proses bahasa Melayu menuju bahasa Indonesia, sehingga tidak semata mengandalkan bukti empiris yang sangat terbatas.

“Mengapa bahasa Melayu tinggi punah di Barus, terdapat missing link dan fenomena ini tidak logis. Bahasa itu menurut pakar bahasa Noam Chomsky harus memenuhi teori keberlanjutan,” sebut Natsir dalam sesi tanya jawab.

Dijelaskan Natsir, setiap bahasa mau tidak mau akan memenuhi teori keberlanjutan, sebagai bahasa ibu lewat pola asuh (nurture) maupun interaksi lingkungan secara alami (nature). Tumbuh kembang bahasa Melayu hanya berlangsung di pesisir Riau, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Malaka, dan secara historis adalah pusat imperium Melayu yang bahasanya digunakan sebagai lingua franca, bahasa perdagangan internasional, bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa diplomasi bagi kerajaan – kerajaan di Nusantara.

Asep mencatat beberapa poin dari diskusi tersebut di antaranya:

  • Perwakilan dari Sumut (Kepala Balai Bahasa Sumut) diminta oleh Kepala Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof. E. Aminuddin untuk melakukan penelitian lebih lanjut kalau masih bersikeras menjadikan Melayu Barus sebagai cikal bakal bahasa Indonesia.
  • Filolog dari UI (Tommy Christommy, Ph.D) menyatakan bahwa yang dianggap sangat otentik dalam hal ini adalah catatan tertulis. Beliau menyatakan bahwa Raja Ali Haji dari Riau/Kepri sebagai linguis pertama di Indonesia dan sekaligus sebagai Bapak Bahasa di Indonesia. Hal itu senada dengan akhir pemaparan dari Kepala Kantor Bahasa Kepri yang sekaligus memperlihatkan langsung buku cetak Kitab Pengetahuan Bahasa dan Bustanulkatibin sebagai karya tertulis Raja Ali Haji berkaitan dengan linguistik.
  • Filolog dari Kemenag (Dr. Mujizah) secara tersirat sependapat dengan Tommy Christommy dari UI, tapi boleh saja setiap wilayah memunculkan kelebihannya masing-masing termasuk tokoh sentralnya dan menjadikan daerah-daerah tersebut mempunyai keunggulan masing-masing tanpa harus “mencederai” sejarah yang sudah ada dan yang sudah terbukti keotentikannya.
  • Kepala Badan Bahasa berencana akan mengadakan pertemuan lanjutan dengan jumlah utusan yang lebih banyak, termasuk dari provinsi atau daerah lain, di antaranya Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat. Selain itu, akan dilakukan penelitian yang terpusat mengenai bahasa Melayu yang keterkaitannya dengan asal usul Bahasa Indonesia. ZK-r

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *